Pesan Buku/Kitab?
SMS & WhatsApp : 0812 8625 1777
Showing posts with label Pustaka Al-Khairat. Show all posts
Showing posts with label Pustaka Al-Khairat. Show all posts
Bahas Cerdas & Kupas Tuntas Dalil Syar'i Maulid Nabi
Bahas Cerdas & Kupas Tuntas Dalil Syar'i Maulid Nabi
Oleh: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit : Pustaka Al-Khairat
Harga : Rp. 30.000,-
Api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala seribu tahun padam seketika. Pilar-pilar kokoh istana kisra Persia pun tumbang berjatuhan. Dan banyak lagi, Walhasil, alam bergemuruh, menyambut kelahiran Nabi SAW sedemikian rupa.
Puluhan tahun kemudian, ada sahabat bertanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin. "Itulah hari kelahiranku dan hari aku diutus," jawab Beliau. Itulah cara Beliau memperingati hari lahirnya. Beliau mensyukurinya dengan berpuasa, bahkan di setiap pekan.
Waktu berputar. Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa versi terkait pihak yang awal mula merayakan Maulid secara terbuka, pasca-era Nabi. Salah satu sumber mu'tamad, At-Tarikh karya Ibnu Katsir, menyebut nama Al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukabri (wafat 630 H). Kala itu, kisah hidup Nabi diperdengarkan, keluhuran akhlaq Beliau disebut-sebut, shalawat bergema silih-berganti, hadirin dijamu layaknya tamu yang mesti dihormati. Meski hanya setahun sekali, inilah salah satu cara umat yang ingin mensyukuri kelahiran sang rahmatan lil'alamin. Di hati pecinta, sungguh ini kenikmatan tiada tara.
Terlepas dari berbagai versi sejarah itu, gagasan mengumpulkan orang dalam sebuah majelis Maulid nyatanya disambut baik oleh ulama, para pewaris anbiya', seperti halnya shalat Tarawih berjama'ah yang digagas Umar bin Khaththab RA, yang terus dilestarikan orang dari zaman ke zaman, di belahan bumi Islam timur dan barat.
Sebut saja Ibnu Hajar (penyusun kitab syarah Shahih Ai-Bukhari) atau An-Nawawi (penyusun kitab syarah Shahih Muslim), dua dari sekian banyak ulama yang telah menjelaskan pada umat hujjah-hujjah syar'i amaliyah Maulid Nabi.
Mereka bukan sembarang tokoh, dua kitab syarah mereka itu menjadi rujukan terpenting untuk memahami hadits-hadits shahih Rasulullah SAW.
Belum lagi As-Suyuthi (penyusun kitab tafsir Qur'an Al-Jalalain, bersama Al-Mahalli, dan sekitar 500 karya berbobot lainnya), yang sampai menyusun kitab khusus berisi perkara penting ini: Husn al-Maqshad fi 'Amal al-Maulid.
Waktu terus berputar. Hingga datang satu kaum yang merasa paling murni tauhidnya dan benar mutlak pendapatnya menghukumi Maulid dengan tergesa-gesa.
Hemat mereka, Maulid itu tak bersumber dari agama, termasuk amalan bid'ah, tradisi paham yang sesat, menyerupai kebiasaan orang kafir, daiil-dalilnya dipaksakan, jamuan yang dihidangkan haram, memuji-muji Nabi di dalamnya menjurus syirik, dan kelak para pelaku "bid'ah" ini menjadi ahli neraka.
Semua itu utamanya bermodalkan dalil, "Tiap yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu ada di neraka" dan rumusan Ibn Taimiyah, "Sekiranya suatu amalan itu baik, niscaya salaf lebih dulu mengamalkannya."
Benarkah demikian? Sesederhana, sedangkal, dan sekaku itukah agama yang agung ini menilai amaliyah umatnya, hingga menempatkan kaum muslimin sejak dulu bagai sekumpulan orang-orang sesat dan para ulamanya bak orang-orang bodoh yang tak paham hadits Nabi SAW atau para pembangkang atas syariat yang beliau gariskan?
Selamat menyimak isi buku ini. Hati manusia tidaklah lebih panas dari api abadi Majusi atau sekeras pilar istana Persi.
Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenaran dan dalam mengikutinya. Amiin..
Baca Selengkapnya...
Oleh: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit : Pustaka Al-Khairat
Harga : Rp. 30.000,-
Api abadi sesembahan kaum Majusi yang telah menyala seribu tahun padam seketika. Pilar-pilar kokoh istana kisra Persia pun tumbang berjatuhan. Dan banyak lagi, Walhasil, alam bergemuruh, menyambut kelahiran Nabi SAW sedemikian rupa.
Puluhan tahun kemudian, ada sahabat bertanya mengapa beliau berpuasa di hari Senin. "Itulah hari kelahiranku dan hari aku diutus," jawab Beliau. Itulah cara Beliau memperingati hari lahirnya. Beliau mensyukurinya dengan berpuasa, bahkan di setiap pekan.
Waktu berputar. Sumber-sumber sejarah mencatat beberapa versi terkait pihak yang awal mula merayakan Maulid secara terbuka, pasca-era Nabi. Salah satu sumber mu'tamad, At-Tarikh karya Ibnu Katsir, menyebut nama Al-Muzhaffar Abu Sa'id Kaukabri (wafat 630 H). Kala itu, kisah hidup Nabi diperdengarkan, keluhuran akhlaq Beliau disebut-sebut, shalawat bergema silih-berganti, hadirin dijamu layaknya tamu yang mesti dihormati. Meski hanya setahun sekali, inilah salah satu cara umat yang ingin mensyukuri kelahiran sang rahmatan lil'alamin. Di hati pecinta, sungguh ini kenikmatan tiada tara.
Terlepas dari berbagai versi sejarah itu, gagasan mengumpulkan orang dalam sebuah majelis Maulid nyatanya disambut baik oleh ulama, para pewaris anbiya', seperti halnya shalat Tarawih berjama'ah yang digagas Umar bin Khaththab RA, yang terus dilestarikan orang dari zaman ke zaman, di belahan bumi Islam timur dan barat.
Sebut saja Ibnu Hajar (penyusun kitab syarah Shahih Ai-Bukhari) atau An-Nawawi (penyusun kitab syarah Shahih Muslim), dua dari sekian banyak ulama yang telah menjelaskan pada umat hujjah-hujjah syar'i amaliyah Maulid Nabi.
Mereka bukan sembarang tokoh, dua kitab syarah mereka itu menjadi rujukan terpenting untuk memahami hadits-hadits shahih Rasulullah SAW.
Belum lagi As-Suyuthi (penyusun kitab tafsir Qur'an Al-Jalalain, bersama Al-Mahalli, dan sekitar 500 karya berbobot lainnya), yang sampai menyusun kitab khusus berisi perkara penting ini: Husn al-Maqshad fi 'Amal al-Maulid.
Waktu terus berputar. Hingga datang satu kaum yang merasa paling murni tauhidnya dan benar mutlak pendapatnya menghukumi Maulid dengan tergesa-gesa.
Hemat mereka, Maulid itu tak bersumber dari agama, termasuk amalan bid'ah, tradisi paham yang sesat, menyerupai kebiasaan orang kafir, daiil-dalilnya dipaksakan, jamuan yang dihidangkan haram, memuji-muji Nabi di dalamnya menjurus syirik, dan kelak para pelaku "bid'ah" ini menjadi ahli neraka.
Semua itu utamanya bermodalkan dalil, "Tiap yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu ada di neraka" dan rumusan Ibn Taimiyah, "Sekiranya suatu amalan itu baik, niscaya salaf lebih dulu mengamalkannya."
Benarkah demikian? Sesederhana, sedangkal, dan sekaku itukah agama yang agung ini menilai amaliyah umatnya, hingga menempatkan kaum muslimin sejak dulu bagai sekumpulan orang-orang sesat dan para ulamanya bak orang-orang bodoh yang tak paham hadits Nabi SAW atau para pembangkang atas syariat yang beliau gariskan?
Selamat menyimak isi buku ini. Hati manusia tidaklah lebih panas dari api abadi Majusi atau sekeras pilar istana Persi.
Semoga Allah SWT menyadarkan kita semua dari rasa angkuh dalam memahami kebenaran dan dalam mengikutinya. Amiin..
Baca Selengkapnya...
Sufi Pengikut Setia Nabi SAW
Sufi Pengikut Setia Nabi SAW
Terjemah Kitab Tahdzir Al-Ikhwan amma Yujib Muharabat Ad-Diyan bi Idza Awliya Ar-Rahman karya Al-Alamah Al-Muhaqqiq Al-Habib Zain al-Abidin Ba'alawi
Penterjemah : Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit : Pustaka Al-Khairat
Harga : Rp. 15.000,-
Banyak orang saat ini alergi dengan kata-kata tasawuf, karena terlalu banyak komentar negatif terkait kata ini yang konon disebut-sebut sarat akan cela.
Sebagian menyebut tasawuf bukan bagian dari islam, yang lain menyebut faham majusi dan hindu, dan masih banyak lagi komentar dusta dan tidak benar, "Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta." (QS. Al-Kahfi [18]: 5).
Ketidaktahuan akan hakikat tasawuf-lah yarg membuat mereka melontarkan kata-kata miring tentang tasawuf yang merupakan para wali Allah SWT.
Di samping juga karena faktor buruk sangka, fanatisme, hawa nafsu dan permusuhan hingga melontarkan kata-kata miring terhadap para sufi.
Mereka membuat-buat dusta terhadap Allah SWT dan para wali. Maka Allah timpakan kematian hati sebelum kematian fisik.
Menurut Imam Al-Ghazali, sufi yang kita maksud adalah sufi yang sejalur dengan Al-Qur'an dan sunnah, yang mengacu pada sifat zuhud, mendidik jiwa dan memperbaiki akhlak.
Baca Selengkapnya...
Terjemah Kitab Tahdzir Al-Ikhwan amma Yujib Muharabat Ad-Diyan bi Idza Awliya Ar-Rahman karya Al-Alamah Al-Muhaqqiq Al-Habib Zain al-Abidin Ba'alawi
Penterjemah : Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit : Pustaka Al-Khairat
Harga : Rp. 15.000,-
Banyak orang saat ini alergi dengan kata-kata tasawuf, karena terlalu banyak komentar negatif terkait kata ini yang konon disebut-sebut sarat akan cela.
Sebagian menyebut tasawuf bukan bagian dari islam, yang lain menyebut faham majusi dan hindu, dan masih banyak lagi komentar dusta dan tidak benar, "Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta." (QS. Al-Kahfi [18]: 5).
Ketidaktahuan akan hakikat tasawuf-lah yarg membuat mereka melontarkan kata-kata miring tentang tasawuf yang merupakan para wali Allah SWT.
Di samping juga karena faktor buruk sangka, fanatisme, hawa nafsu dan permusuhan hingga melontarkan kata-kata miring terhadap para sufi.
Mereka membuat-buat dusta terhadap Allah SWT dan para wali. Maka Allah timpakan kematian hati sebelum kematian fisik.
Menurut Imam Al-Ghazali, sufi yang kita maksud adalah sufi yang sejalur dengan Al-Qur'an dan sunnah, yang mengacu pada sifat zuhud, mendidik jiwa dan memperbaiki akhlak.
Baca Selengkapnya...
Labels:
Harga 20 rb ke bawah,
Pustaka Al-Khairat
Ayah Bunda Nabi SAW di Surga
Ayah Bunda Nabi SAW di Surga
Terjemah Kitab Al-Hujaj Al-Wadhihat Fi Najat Al-Abawain wa Al-Ajdad wa Al-Ummahat karya: Sayyid Ishaq Azuz Al-Hasani Al-Makki
Penterjemah: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit: Pustaka Al-Khairat
Harga: Rp. 15.000,-
Buku ini bantahan untuk para manusia usil nan bodoh yang merasa bisa meraih pahala ketika mampu mengkafirkan ayah dan bunda Nabi SAW.
Memahami hadits dengan mengedepankan hawa nafsu belaka sehingga yang terjadi adalah minimnya adab pada Nabi-nya sendiri, hingga mengkafirkan ayah dan ibu Rasulallah SAW.
Qadhi Ibnu Arabi Al-Maliki menjelaskan, tidak ada celaan yang lebih besar dari celaan orang yang menyatakan kedua orang tua nabi SAW berada di neraka.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." {QS. Al-Ahzab: 57).
Kalaupun kita tidak bisa mengagungkan Nabi yang mulia, setidaknya kita tidak menjadi pencaci yang menyakitinya.
Baca Selengkapnya...
Terjemah Kitab Al-Hujaj Al-Wadhihat Fi Najat Al-Abawain wa Al-Ajdad wa Al-Ummahat karya: Sayyid Ishaq Azuz Al-Hasani Al-Makki
Penterjemah: Muhammad Ahmad Vad'aq
Penerbit: Pustaka Al-Khairat
Harga: Rp. 15.000,-
Buku ini bantahan untuk para manusia usil nan bodoh yang merasa bisa meraih pahala ketika mampu mengkafirkan ayah dan bunda Nabi SAW.
Memahami hadits dengan mengedepankan hawa nafsu belaka sehingga yang terjadi adalah minimnya adab pada Nabi-nya sendiri, hingga mengkafirkan ayah dan ibu Rasulallah SAW.
Qadhi Ibnu Arabi Al-Maliki menjelaskan, tidak ada celaan yang lebih besar dari celaan orang yang menyatakan kedua orang tua nabi SAW berada di neraka.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan." {QS. Al-Ahzab: 57).
Kalaupun kita tidak bisa mengagungkan Nabi yang mulia, setidaknya kita tidak menjadi pencaci yang menyakitinya.
Baca Selengkapnya...
Labels:
Harga 20 rb ke bawah,
Pustaka Al-Khairat
Aqidah Keluarga Nabi
Aqidah Keluarga Nabi
(Terjemah Kitab Bahjah ath-Thalibin fi Muhimmat Ushuliddin Karya al-Habib Zein bin Sumaith)
Penterjemah: Rijalul Khairat Team
Penerbit: Pustaka Al-Khairat
Harga: Rp. 27.500,- (KOSONG)
Buku yang berisi penjelasan para ulama dari rumah tangga Ahlul Bait Nabi SAW yang diberkahi ini, mengumpulkan berbagai penjelasan pada sejumlah tema penting ushuluddin (pokok-pokok agama). Penjelasan mereka mutlak dibutuhkan demi memurnikan dan memperkokoh aqidah umat, khususnya dalam menyikapi perkembangan zaman di era sekarang. Maklum sudah, di zaman sekarang ini begitu banyak terjadi penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersikap berlebihan, penjiplakan para pendusta, dan takwil orang-orang yang tidak berpengetahuan, dari kalangan para ulama su' dan musuh-musuh agama.
Aqidah adalah masalah yang sangat prinsip dalam ajaran agama ini. Karenanya, kita wajib mengajarkan pada anak-anak kita dengan benar dan teliti.
Beragam aliran kini tumbuh subur dengan segala macam klaim kebenaran yang mereka usung. Di antaranya, dua kelompok yang amat bersemangat "berdakwah" di tengah masyarakat kita.
Pertama, kelompok yang senang berhalusinasi bahwa merekalah pengikut sahabat Nabi SAW dan salafushshalih, adapun orang yang tak sepaham, mereka anggap salah, sesat, bahkan kafir.
Kedua, orang-orang yang mengatasnamakan pencinta keluarga Nabi Muhammad SAW, sementara mereka memusuhi, mencaci, bahkan melaknat para sahabat Nabi SAW.
Buku ini akan mengungkap kenyataan bahwa kaum Sadah Ba 'Alawi -yang tak terbantahkan keotentikan nisbah mereka kepada Nabi, baik dari sisi nasab keturunan maupun sanad keilmuan- merekalah keluarga Nabi dan merekalah pencinta sahabat. Jalan yang mereka tempuh adalah dengan mengedepankan ilmu dan adab yang mulia dalam menyikapi setiap masalah yang diperselisihkan.
Sesungguhnya, usaha musuh-musuh Islam untuk membenturkan para pengikut sahabat Nabi SAW dan pengikut ahlul bait Nabi SAW akan sia-sia jika umat ini mengambil ilmu dari sumber yang benar, ajaran yang jauh dari kebencian dan permusuhan sesama umat, yang akhirnya bermuara pada telaga Nabi yang suci.
Semoga karya Al-'Allamah Al-Faqih Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith ini dapat kita pahami dan resapi dengan baik, hingga kita terjaga dari segala penyimpangan terhadap syari'at agama ini.
Baca Selengkapnya...
Subscribe to:
Posts (Atom)




