Yuk, berbisnis dg 0 Rupiah!
silakan klik link berikut:


Pesan Buku/Kitab?
SMS & WhatsApp : 0812 8625 1777
Pin BB : 73E49DB5
e-mail: r.rusmanto@gmail.com https://www.tokopedia.com/tb-albarokah ___________________________

Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama

Syaikhona Kholil Bangkalan Penentu Berdirinya Nahdlatul Ulama

Oleh : RKH. Fuad Amin Imron

Penerbit: Khalista & Penainsani

Harga: Rp. 45.000,- (KOSONG)

"Jika Mujammil Qomar (2002) menyebut tiga nama ulama yang memiliki peran penting dalam proses pendirian NU yaitu, Kiai Wahab Hasbullah sebagai pencetus ide; Kiai Hasyim Asy'ari sebagai pemegang kunci; dan Syaikhona Muhammad Kholil sebagai penentu berdirinya NU, dalam buku ini saya menambahkan satu ulama lagi yaitu, Kiai As'ad Syamsul Arifin. Peran Kiai As'ad dalam konteks ini adalah penyampai isyarah langit dari Syaikhona Kholil, yang telah meneguhkan sikap dan pandangan Kiai Hasyim Asy'ari untuk mendirikan NU"
- RKH. Fuad Amin Imron, penulis

"Dalam perspektif spiritualitas, Syaikhona Kholil adalah tokoh yang berperan secara langsung dalam pendirian organisasi para ulama pesantren. Pesan spritualitasnya yang disampaikan melalui Kiai As'ad Syamsul Arifin menjadi faktor penentu bagi berdirinya NU. Dan pesan simbolik Syaikhona Kholil inilah yang telah menepis keraguan, kegamangan dan kegelisahan Kiai Hasyim untuk mendirikan NU. Keyakinan Kiai Hasyim terhadap pesan spiritual gurunya itu, lalu diteruskan secara lahiriyah kepada Kiai Wahab Hasbullah sebagai pembawa ide, untuk ditindaklanjuti dalam sebuah permusyawaratan ulama di Surabaya, pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), setahun sebelum Syaikhona Kholil wafat. Permusyawaratan para ulama tersebut melahirkan komite Hijaz, yang kemudian ditetapkan namanya menjadi jam'iyah Nahdlatul Ulama"
- Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd, MA. Ketua Umum PBNU

Isyarah "Tongkat Musa" dan "Tasbih" yang diberikan Syaikhona Kholil kepada Kiai Hasyim Asy'ari melalui Kiai As'ad Syamsul Arifin berhubungan dengan jam'iyah sekaligus jama'ah NU. "Tongkat Musa" adalah simbol komando atau kepemimpinan (leadership), sementara "tasbih" adalah simbol spiritualitas dan simbol budaya. Kombinasi keduanya, diharapkan agar pemimpin NU memiliki pandangan, sikap, dan tindakan yang terjaga keseimbagannya antara kebutuhan duniawi dan ukhrawi. Muaranya adalah keteladanan (al-uswah), di mana pandangan, sikap, dan tindakan pemimpin NU harus dapat dijadikan teladan oleh jama'ah"
- Nico Ainul Yakin, Editor

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment

silakan isi komen atau pesan saran di bawah ini...