Yuk, berbisnis dg 0 Rupiah!
silakan klik link berikut:


Pesan Buku/Kitab?
SMS & WhatsApp : 0812 8625 1777
Pin BB : 73E49DB5
e-mail: r.rusmanto@gmail.com https://www.tokopedia.com/tb-albarokah ___________________________

Qunut Subuh Bid'ah?

Qunut Subuh Bid'ah?

Kajian Komprehensif Tentang Hadis-Hadis Qunut Subuh

Oleh: Dr. Burhan Djamaluddin

Penerbit: Hikmah Perdana

Harga: Rp. 20.000,-

Sebagaimana diketahui, di Indonesia khususnya, sering terjadi perselisihan (khilafiyah) diantara kaum muslimin tentang masalah-masalah keagamaan. Khilafiyah tersebut terjadi dalam dua bidang kandungan ajaran Islam, yaitu dalam bidang ibadah dan mu'amalah. Diantara masalah yang diperselisihkan dalam bidang ibadah, adalah masalah shalat, misalnya membaca doa qunut secara rutin pada shalat subuh. Sumber perselisihan kaum muslimin dalam masalah doa qunut secara rutin pada shalat subuh ini terletak pada hadis. Apakah hadis yang dijadikan dalil tentang doa qunut secara rutin pada shalat subuh tersebut shahih (kuat dan dapat dijadikan dalil), atau dhaif (lemah dan tidak dapat dijadikan dalil).

Memang, diakui atau tidak, hadis secara umum termasuk "sumber perselisihan dan perpecahan" dikalangan kaum muslimin. Sebuah hadis, dapat dinilai shahih oleh sebagian kaum muslimin, dan sebaliknya dapat dinilai dhaif oleh sebagian yang lain. Atau boleh jadi, karena banyaknya jumlah hadis dan menyebar di berbagai kitab hadis, sebagian kaum muslimin menggunakan hadis yang berbeda, dengan hadis yang digunakan oleh kaum muslimin lainnya, yang secara kebetulan muatan hadis yang dijadikan dalil oleh masing-masing pihak tersebut saling kontradiksi.

Bahkan karena fanatik kelompok, fanatik daerah, dan fanatik mazhab, kelompok-kelompok tertentu sampai berani membuat hadis palsu (mawdu'), sekedar untuk melegitimasi eksistensi kelompok dan faham yang dianutnya. Kelompok lainnya juga melakukan hal yang sama. Akibatnya terjadilah perselisihan yang semakin sulit dicarikan titik temunya. Suatu misal ada dua hadis shahih yang saling kontradiksi satu sama lain tersebut, nampaknya, tidak pernah dicarikan solusinya, apakah dengan mendahulukan hadis yang mutawatir dari yang ahad, mendahulukan hadis yang lebih shahih dari yang shahih.
Mendahulukan yang sanadnya atau perawinya orang-orang yang bertempat tinggal di Madinah (tempat sumber hadis) dari sanad atau perawi yang bertempat tinggal jauh dari sumber hadis, misalnya di Iraq, atau solusi-solusi lainnya, seperti yang ditawarkan oleh Ibn Hazim.

Sistem pengajaran hadis sesuai dengan aliran/faham yang dianut oleh guru di suatu lembaga juga dapat menimbulkan kesulitan tersendiri bagi para siswa. Buku ini tidak diniatkan untuk mempertajam perselisihan (khilafiyah) yang terjadi selama ini di kalangan kaum muslimin. Namun, buku ini hanyalah sebuah usaha subyektif mungkin untuk meneliti hadis-hadis tentang membaca doa qunut secara rutin pada shalat subuh. Selanjutnya penulis menerahkan sepenuhnya kepada pembaca untuk menilai apakah hasil penelitian terhadap hadis-hadis ini disepakati kebenarannya atau masih juga diperselisihkan.

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment

silakan isi komen atau pesan saran di bawah ini...